Text
BEDUDU Kebertahanan Seni Tutur Dayak Desa (Studi Pada Betang Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai, Kabupaten Sintang)
Seni tutur bedudu Dayak Desa di Betang Ensaid Panjang merupakan bentuk pertunjukan seni tradisi masyarakat Dayak Desa yang berisi penuturan atau penyampaian teks sastra secara lisan oleh beberapa orang pemain/penutur kepada khalayak/penonton, dengan menggunakan tempat pertunjukan di betang maupun di luar betang. Secara substansial, pertunjukan bedudu memuat teks-teks yang disajikan para penutur dan ditafsirkan oleh khalayak penonton yang berasal dari kalangan masyarakat pendukungnya. Makna yang terkandung dalam teks lisan tersebut mempresentasikan kehidupan nyata yang disusun, diingat, digubah, dan disampaikan secara kreatif oleh pencipta/penutur dalam sebuah pertunjukan melalui ruang improvisasi. Kebertahanan seni tutur bedudu di Betang Ensaid Panjang bergantung pada beberapa faktor yang mempengaruhi keberlangsungan seni tutur bedudu itu sendiri. Didasarkan pada proses identifikasi terdapat faktor-faktor pengaruh tersebut terbagi dalam dua kategori yaitu (pertama) faktor pendukung kebertahanan seni tutur bedudu di Ensaid Panjang adalah keberadaan tokoh bedudu (Hermanus Bintang), keberadaan bangunan betang sebagai tempat beraktivitas adat, dan antusiasme tinggi sebagian masyarakat di Betang Ensaid Panjang; dan (kedua) faktor yang melemahkan kebertahanan seni tutur bedudu di Dusun Rentap Selatan adalah berkurangnya aktivitas adat yang memfasilitasi perrtunjukan bedudu, kekurangan tokoh bedudu yang masih aktif, pergeseran masyarakat dalam menikmati hiburan, pergeseran orientasi masyarakat kedalam bidang ekonomi, ketiadaan proses regenerasi atau transmisi seni tutur bedudu, serta ketiadaan sanggar atau komunitas seni yang aktif.
The art of Bedudu Dayak Desa speech in Betang Ensaid Panjang is a form of traditional art performance for the Dayak Desa community that contains narratives or the oral delivery of literary texts by several players or speakers to the audience, using a performance venue in Betang and outside Betang. Substantially, the Bedudu performance contains texts that are presented by the speakers and interpreted by the audience who come from the supporting community. The meaning that is contained in the spoken text represents real life which is arranged, remembered, composed, and conveyed creatively by the creator or speaker in a performance through improvisational spaces. The survival of Bedudu speech art in Betang Ensaid Panjang depends on several factors that influence the sustainability of the bedudu speech art itself. Based on the identification process, there are influencing factors that are divided into two categories, namely: (first) the supporting factors for the survival of the bedudu speech art in Ensaid Panjang are the existence of the bedudu figure (Hermanus Bintang), the existence of the betang building as a place for traditional activities, and the high enthusiasm of some people in Betang Ensaid Panjang; and (second) the factors that weaken the sustainability of the art of bedudu speech in Rentap Selatan Hamlet are the reduced traditional activities that facilitate bedudu performances, the shortage of active bedudu figures, the society shift in enjoying entertainment, the shift in people's orientation to the economic sector, the absence of a process of regeneration or transmission of the art of bedudu speech, and the absence of an active art studio or community.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain