Text
NILAI-NILAI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DALAM BUDAYA ETNIK
Pendidikan multikultural merupakan respons terhadap perkembangan keragaman populasi sekolah, sebagaimana tuntutan persamaan hak bagi setiap kelompok. Hal ini dapat diartikan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang mencakup seluruh siswa tanpa membedakan kelompok-kelompoknya, seperti gender, etnis, ras, budaya, strata sosial, dan agama. Dalam aktivitas pendidikan manapun, peserta didik merupakan sasaran (objek) dan sekaligus sebagai subjek pendidikan. Oleh karena itu, dalam memahami hakikat pendidikan perlu dilengkapi pemahaman tentang ciri-ciri umum peserta didik. Oleh karena itu pemahaman multikulturalisme pada usia dini akan dapat lebih berdampak dan mengkristal mengapresiasi nilai-nilai yang sesungguhnya dan terjadi secara faktual di masyarakat. Multikultur dalam konteks Bali dapat dilihat dari proses historis pembentukannya. Bukti sejarah menunjukkan bahwa terdapat aspek budaya India dan Cina yang turut mempengaruhi kebudayaan Bali. Praktek multikulturalisme di Bali sesungguhnya telah ada sejak zaman raja-raja yang berkuasa di Bali. Hanya saja masyarakatlah yang sesungguhnya kurang memahami model-model ini. Misalnya sebuah istilah nyama selam. Beberapa contoh sebagai cerminan dari nilai-nilai multikultur dapat dilihat dalam ingatan sejarah masa lalu. Seperti yang terjadi di Buleleng terdapat peninggalan Alquran yang ditulis oleh seorang kerabat kerajaan Buleleng bernama I Gusti Ngurah Ketut Jelantik Celaki. Peninggalan Alquran membuktikan bahwa mencerminkan suatu sikap toleransi yang telah terjadi pada masa itu. Melalui pendidikan multikulturalisme ini diharapkan akan dicapai suatu kehidupan masyarakat yang damai, harmonis, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sebagaimana yang telah diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain