Text
KERAJAAN HULU AIK (STUDI SEJARAH TENTANG PERKEMBANGAN KERAJAAN HULU AIK)
Sejarah peradaban manusia di Kalimantan sudah berlangsung lama. Namun didalam kurun waktu sejarah peradabannya tidak berkesinambungan. Jauh sebelum penjajahan terjadi dibumi nusantara, orang Dayak telah berkembang ke dalam sub suku yang jumlahnya ratusan dan mendiami tanah-tanah di sekitar sungai dan anak-anak sungainya. Sub suku ini terbagi lagi kedalam kelompok-kelompok yang lebih kecil dengan satuan komunitas yang disebut rumah panjang (rumah betang). Sebagai konsekuensi dari hegemoni negara dan kaum kapitalis, orang Dayak mengalami marginalisasi ekonomi, pengetahuan dan politik. Marginalisasi ekonomi diawali ketika negara dibawah rezim Orde Baru, dimana pemerintah yang berkuasa tidak menghormati kedaulatan masyarakat adat untuk mengelola komunitasnya secara mandiri, tanpa kontrol yang besar dari negara. Penghancuran rumah panjang yang dilakukan sebagai akibat dari munculnya rasa kekhawatiran pemerintah terhadap rasa solidaritas dan rasa persatuan yang kuat diantara penghuni rumah panjang serta penggantian yang diikuti dengan penghapusan fungsi temonggong yang semula menjadi kepala pemerintahan (tetua adat) di tingkat lokal diganti oleh kepala desa. Baru setelah masa reformasi dan otonomi daerah bergulir orang/masyarakat adat Dayak mempunyai akses yang lebih luas untuk menentukan nasibnya sendiri. Persamaan nasib sebagai orang yang tertindas telah mempersatukan orang-orang Dayak Ketapang yang selama ini tercerai berai ke dalam satu wadah perjuangan masyarakat Adat Dayak Ketapang yaitu Laman Sembilan Domong Sepuloh yang dikepalai oleh seorang raja yaitu Raja Singa Bansa (Raja Hulu Aik VI). Dan sebagai perwujudan dari perjuangan warga negara yang belum merdeka sepenuhnya, masyarakat Adat Dayak yang tergabung dalam masyarakat Laman Sembilan Domong Sepuloh menetapkan 13 Agustus sebagai Hari Persatuan Dayak Ketapang. Selain penetapan tanggal 13 Agustus sebagai tonggak sejarah kebangkitan orang Dayak, adapula satu gerakan lagi yang menjadi motor penggerak bagi perjuangan masyarakat Dayak. Gerakan ini timbul sebagai akibat dari rsa kepedulian dan keprihatinan melihat orang Dayak yang sudah sejak lama dihina, ditindas, dijajah, dikucilkan dan dipinggirkan dari segala sektor kehidupan. Belajar dari pengalaman hidup yang didapat, motor penggerak Drs. Anselmus Robertus Mecer yang mengembangkan berbagai usaha yang bertujuan untuk membela dan memperjuangkan segala kepentingan masyarakat Dayak baik dibidang pendidikan, ekonomi, hukum, sosial dan budaya. Dengan mengambil ide dari alam beliau mendirikan sebuah Yayasan yang diberinya nama Pancur Kasih. Pemberian nama inipun disesuaikan dengan sebuah tempat keramat yang terdapat ditanah kelahirannya di desa Menyumbung yaitu Pancur Keramat yang merupakan sumber mata air bagi masyarakat yang terdapat di kerajaan Hulu Aik.
Translate :
The history of human civilization in Kalimantan has been going on for a long time. But in the period of the history of civilization is not sustainable. Long before colonialism occurred on the archipelago, the Dayaks had grown into sub-tribes that numbered in the hundreds and inhabited lands around the river and its tributaries. This sub-tribe is further divided into smaller groups with community units called longhouses (longhouses). As a consequence of the hegemony of the state and the capitalists, the Dayaks experienced economic, knowledge, and political marginalization. Economic marginalization began when the state was under the New Order regime, where the government in power did not respect the sovereignty of indigenous peoples to manage their communities independently, without great control from the state. Destruction of longhouses which was done as a result of the emergence of a sense of government concern about a sense of solidarity and a strong sense of unity among the residents of the longhouse as well as a replacement which was followed by the abolition of the function of temonggong which was originally the head of government (traditional elders) at the local level replaced by the village head. Only after a period of reform and regional autonomy did the indigenous Dayak people/communities have greater access to determine their own destiny. The equality of fate as an oppressed person has united the Dayak Ketapang people who had been scattered into one container of the struggle of the Dayak Ketapang Indigenous people, that is Sembilan Domong Sepuloh headed by a king, namely Raja Singa Bansa (Raja Hulu Aik VI). And as a manifestation of the struggle of citizens who are not yet fully independent, the Dayak Indigenous people who are members of the Sembilan Domong Sepuloh community set August 13 as Day of Dayak Ketapang Unity. In addition to setting August 13 as a milestone in the rise of the Dayak, there is also one more movement that has become a driving force for the struggle of the Dayak community. This movement arises as a result of the concern and concern of seeing Dayaks who have long been insulted, oppressed, colonized, isolated, and marginalized from all sectors of life. Learning from life experiences gained, the driving force of Drs. Anselmus Robertus Mecer who developed various businesses aimed at defending and fighting for the interests of the Dayak community in the fields of education, economy, law, social and culture. By taking ideas from nature he established a foundation that he named Pancur Kasih. Giving this name was adjusted to a sacred place in his birth ground in the village of Menyumbung, Pancur Keramat which is a source of water for people in the kingdom of Hulu Aik.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain