Text
PENYAM(B)UN(G) SUARA LIDAH RAKYAT
Masyarakat indonesia mengenal baik kata-kata bijak bahwa "gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang." Dua seri terakhir bunga rampai ini terbit bersamaan waktu dengan peringatan seabad hari Kebangkitan Nasional, delapan puluh tahun sesudah peristiwa soempah pemuda 1928, dan enampuluh tahun lebih sesudah proklamasi kemerdekaan indonesia.
Sebuah pertanyaan yang belum tuntas dijawab, dan masih terus menghantui para cendikiawan yang selayaknya mandiri dn tanpa pamrih yaiut bagaimana modernitas dan nasionalisme di NKRI dapat sebegitu lama direkayasa dengan menakjubkan dan mempeona oleh rejim militer (orde) baru dibawah komando Suharto,sorang Jawa yang lahir di sebuah desa di pinggiran kota Jogja. Gemerlap mempesona tersebut sesungguhkanya dapat juga berarti kegelapan yang sedang menghantui perjalanan bangsa indonesia selanjutnya. Horor hantu yang sebenarnya dari kegelapan tersbeut, antara lain, adalah "akal sehat" yanng selalu menyediakan diri untuk membenarkan dan mendukung "gemerlap pesona" pembangunan modern (orde) baru seperti itu.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain