Text
TOPENG LENGGER
Tari Topeng Lengger adalah kesenian tradisional dari wonosobo yang menampilkan penari lengger dan penari topeng. Mereka menari secara berpasangan. Penari topeng dalam gerakannya harus menyesuaikan dengan kostum dan topeng yang diperankan. Dalam Tari Topeng Lengger Wonosobo, ada empat karakter topeng yaitu alusan, gagahan, gecul, dan kasar. Masing-masing karakter topeng memiliki ciri topeng yang beraneka ragam, mulai dari bentuk mata, hidung, mulut, dan sebagainya. Warna yang digunakan dalam pembuatan topeng ini diantaranya putih, kuning, merah, hijau telur, hijau tua, hitam, oranye, biru muda, dan coklat. Untuk acara ritual seperti Sandranan Giyanti dan ritual lainnya, pementasan Tari Topeng Lengger diawali dengan gendhing Babadaono, Tari Topeng Sulasih, Kinayakan, Bribil, Sontoloyo, Menyan Putih, Kebo Giro, baru dilanjutkan dengan tari topeng lainnya. Pertunjukan tari Topeng ini, kini ditampilkan menyesuaikan durasi waktu dan kebutuhan pementasan. Gerakan dalam Tari Lengger didominasi oleh gerakan pinggul, sehingga terlihat lincah, lucu, dan dinamis. Gerakannya antara lain maju beksan, beksan, dan mundur beksan. Kostum yang digunakan diantaranya jamang bulu, sumping, baju rompi, slepe, sampur, kain jarik untuk wanita dan untuk pria diantaranya iket Kepala, topeng, baju polos, sabuk kamus, celana selutut, dan kain jarik. Tari Lengger Wonosobo awalnya diiringi dengan peralatan music sederhana seperti bundengan, gong tiup, angklung, bende, keprak, dan sebagainya. Seiring dengan perkembangan waktu kesenian ini diiringi dengan gamelan dengan laras perog dan slendro. Musik pengiring tersebut terdiri dari bonang barung, bonang penerus, demung, saron, peking, kethuk, kempul, dan kendang batangan. Fungsi tarian ini adalah untuk mengingatkan seorang anak pada kebesaran Tuhan. Dulu tarian ini digunakan untuk media penyebaran agama Islam. Selain itu tarian lengger juga untuk menunjukkan keindahan dari penari wanita.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain