Text
MIGRASI DAN PLURALITAS MASYARAKAT DI KOTA SABANG
MIGRASI DAN PLURALITAS MASYARAKAT DI KOTA SABANG
Salah satu daerah di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang mempunyai tingkat pluralisme yang tinggi adalah kota Sabang. Di kota ini hidup bermacam-macam suku bangsa baik yang berasal dari wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, seperti Aceh, Aneuk Jamee, Gayo dan sebagainya maupun suku bangsa yang berasal dari luar Propinsi ini seperti etnis Cina ataupun suku bangsa Jawa. Kondisi pluralisme yang demikian terbentuk melalui suatu proses sejarah yang panjang. Pada awalnya, kota Sabang ini memang dihuni oleh penduduk asli yang ada di kawasan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Sejak Belanda masuk ke daerah ini dan menetapkan Sabang sebagai daerah pelabuhan bebas, maka kemudian Belanda mendatangkan banyak tenaga kerja yang berasal dari luar Sabang. Selain karena faktor politik / kebijakan pemerintah Belanda, terbentuknya masyarakat yang pluralisme di kota Sabang adalah karena faktor ekonomi, sosial dan demografi. Hal ini tampak pada perkembangan selanjutnya di kota Sabang, yang mana pada masa Sabang menyandang predikat pelabuhan bebas, banyak masyarakat yang datang di kota ini untuk melakukan transaksi ekonomi. Alasan ekonomi mulai tampak berkurang ketika predikat Sabang sebagai kawasan pelabuhan bebas dicabut oleh pemerintah. Pluralisme yang terbentuk di kota Sabang telah menyebabkan budaya-budaya masing-masing suku bangsa yang ada di daerah ini telah menyatu / berakulturasi. Mereka tidak lagi fanatik memegang budaya asal mereka. Hal ini membawa akibat lebih lanjut kepada interaksi yang harmonis di antara warga masyarakat. Mereka telah memaklumi apabila melihat budaya asing yang berada di luar lingkungan mereka. Terbentuknya sikap ini berasal dari percampuran budaya melalui perkawinan yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun di antara anggota masyarakat Sabang.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain