Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of MIGRASI DAN PLURALITAS MASYARAKAT DI KOTA SABANG
Penanda Bagikan

Text

MIGRASI DAN PLURALITAS MASYARAKAT DI KOTA SABANG

SHABRI A - Nama Orang;

MIGRASI DAN PLURALITAS MASYARAKAT DI KOTA SABANG
Salah satu daerah di wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh yang mempunyai tingkat pluralisme yang tinggi adalah kota Sabang. Di kota ini hidup bermacam-macam suku bangsa baik yang berasal dari wilayah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, seperti Aceh, Aneuk Jamee, Gayo dan sebagainya maupun suku bangsa yang berasal dari luar Propinsi ini seperti etnis Cina ataupun suku bangsa Jawa. Kondisi pluralisme yang demikian terbentuk melalui suatu proses sejarah yang panjang. Pada awalnya, kota Sabang ini memang dihuni oleh penduduk asli yang ada di kawasan Propinsi Daerah Istimewa Aceh. Sejak Belanda masuk ke daerah ini dan menetapkan Sabang sebagai daerah pelabuhan bebas, maka kemudian Belanda mendatangkan banyak tenaga kerja yang berasal dari luar Sabang. Selain karena faktor politik / kebijakan pemerintah Belanda, terbentuknya masyarakat yang pluralisme di kota Sabang adalah karena faktor ekonomi, sosial dan demografi. Hal ini tampak pada perkembangan selanjutnya di kota Sabang, yang mana pada masa Sabang menyandang predikat pelabuhan bebas, banyak masyarakat yang datang di kota ini untuk melakukan transaksi ekonomi. Alasan ekonomi mulai tampak berkurang ketika predikat Sabang sebagai kawasan pelabuhan bebas dicabut oleh pemerintah. Pluralisme yang terbentuk di kota Sabang telah menyebabkan budaya-budaya masing-masing suku bangsa yang ada di daerah ini telah menyatu / berakulturasi. Mereka tidak lagi fanatik memegang budaya asal mereka. Hal ini membawa akibat lebih lanjut kepada interaksi yang harmonis di antara warga masyarakat. Mereka telah memaklumi apabila melihat budaya asing yang berada di luar lingkungan mereka. Terbentuknya sikap ini berasal dari percampuran budaya melalui perkawinan yang terjadi selama berpuluh-puluh tahun di antara anggota masyarakat Sabang.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
-
Penerbit
Nanggroe Aceh Darussalam : BALAI KAJIAN SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL BANDA A., 2002
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
2.2(300-31
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?