Text
SISTEM KESATUAN HIDUP SETEMPAT DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
SISTEM KESATUAN HIDUP SETEMPAT DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Bentuk komunitas kecil di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah desa dan kampung (untuk daerah perkotaan). Ciri-ciri suatu Komunitas kecil semacam desa Giripurwa dan perkampungan di Kotamadya Yogyakarta seperti Kota Gede adalah penduduknya merupakan warga masyarakat yang utuh yang maksudnya masing-masing warga masyarakat itu mempunyai hak-hak subyektif yang berfungsi sosial; maksudnya dalam menggunakan haknya itu harus mengingat kepentingan orang lain, jangan sampai merugikan pihak lain. Kalau perlu dapat dilakukan usaha-usaha bersama untuk mewujudkan kepentingan bersama. Alasan-alasan terjadinya pelapisan sosial seperti : keturunan kerabat, jabatan atau kepangkatan, keadaan ekonomi, pendidikan atau kemampuan dan lain sebagainya. Yang sebenarnya itu menunjukkan adanya perbedaan kedudukan individu atau kelompok dalam masyarakat. Pelapisan-pelapisan sosial resmi itu kecuali pelapisan sosial resmi yang bersumber pada Kraton Yogyakarta sudah tidak tampak di daerah-daerah pedesaan seperti Giripurwa. Bentuk pelapisan yang disebut wong baku, wong ngindhung dan lain sebagainya sekarang sudah sulit, bahkan tidak berlaku lagi. Hal ini karena adanya perubahan-perubahan sosial di pedesaan yang pada umumnya disesuaikan dengan program dan kebijaksanaan Pemerintah. Dalam sistem pemerintahan tradisional semacam ini pimpinannya dipilih dari keturunan kerabat yang pernah juga menjadi pimpinan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh suatu sikap polos warga komunitas kecil yang menilai kejujuran seseorang dari cara mereka mengabdi kepada kepentingan bersama. Dengan adanya proses perkembangan sejarah pemerintahan, maka bentuk pimpinan tradisional semacam ini yang diungkapkan tersebut di atas sudah menipis bahkan hampir tidak ada lagi, kecuali pimpinan tradisional Kraton Yogyakarta : Sultan. Hilangnya bentuk pimpinan tradisional itu dilanjutkan oleh pimpinan masyarakat yang ada sekarang ini. Dasar dari pada kepangkatan seorang pimpinan dalam komunitas disamping kejujuran adalah kecakapannya dalam memimpin dan kemampuannya untuk mengelola masyarakat yang dipimpinnya. Sebenarnya cara pengendalian sosial ini kalau kita teliti dan camkan lebih dalam, lebih mempunyai sifat mencegah jangan sampai peraturan atau norma-norma yang ada itu dilanggar dan diselewengkan oleh individu sebagai warga masyarakat. Dari masing-masing cara itu penekanannya pada jiwaatau kalau boleh disebut mentalitas warga komunitas agar sadar terhadap nilai-nilai dan peraturan yang berlaku di dalam komunitas atau masyarakatnya. Dan secara psikologis akan pula diharapkan agar warga masyarakat itu timbul rasa takutnya bila ia sampai melanggar peraturan yang berlaku itu.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain