Text
PERKAMPUNGAN DI PERKOTAAN SEBAGAI WUJUD PROSES ADAPTASI SOSIAL DAERAH IRIAN JAYA
PERKAMPUNGAN DI PERKOTAAN SEBAGAI WUJUD PROSES ADAPTASI SOSIAL DAERAH IRIAN JAYA
Kampung yang berada di pusat kota (RW III Argapura) dan kampung yang berada di pinggiran kota (RW V Kelurahan Vim) dalam penelitian ini tergolong miskin. Di kedua rukun wilayah sampel ini ayah adalah menjadi kepala keluarga dan bertanggung jawab terhadap kehidupan / kelangsungan hidup keluarga yang berarti ayah mencari nafkah untuk keluarga. Karena penghasilan yang rendah, maka kadang-kadang istri dan anak-anak yang sudah besar ikut membantu bekerja. Hal ini akan berpengaruh terhadap pendidikan anak-anaknya. Anak tidak melanjutkan ke pendidikan, bahkan banyak yang putus sekolah karena masalah biaya. Pendidikan orang tua juga berpengaruh terhadap pendidikan anak-anaknya. Kebanyakan orang tua mengatakan bahwa menghendaki keberhasilan pendidikan anak. Keinginan ini kebanyakan hanya merupakan keinginan saja, karena kurang disertai dengan usaha penyediaan dana. Warga perkampungan miskin di kedua daerah sampel kebanyakan merasa belum puas dengan kehidupan sekarang, karena tidak kesesuaian antara penghasilan dengan kebutuhan keluarga. Keterbatasan lapangan kerja berakar pada dasar pendidikan serta keterampilan yang mereka miliki relatif rendah. Kesamaan suku dan ketaatan dalam hidup beragama menumbuhkan dan memperkuat kehidupan saling tolong menolong antara sesama warga. Walaupun di antara mereka terdapat perbedaan suku, bahasa, agama, dan adat, prinsip gotong royong tetap ada terlebih-lebih bila musibah menimpa salah seorang warga kampung. Perbedaan antara kedua RW ini adalah : RW III Argapura dimana mata pencahariaan kebanyakan buruh, nelayan dan pedagang kecil-kecilan kemudian wilayah dataran sempit sehingga mayoritas wilayah dataran dimanfaatkan untuk perumahan tidak memungkinkan untuk kegiatan pertanian dalam corak cara hidupnya lebih bersifat urban (perkotaan) sedangkanRW V Kelurahan Vim mata pencahariaan sebagian besar sebagai pegawai negeri golongan I dan II sehingga masih memungkinkan adanya kegiatan pertanian seperti berkebun dan menokok sagu karena daerahnya merupakan dataran, dalam pola kepemimpinan kelurahan Vim masih kuat di pengaruhi adat.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain