Text
JURNAL WACANA EDISI 21 TAHUN VI 2005
Jurnal Wacana Edisi 21 Tahun VI 2005 ini akan mengangkat masalah Pilkada. Gagasan utama dari Pilkada memang sungguh ideal. Di tingkat lokal, rakyat dapat menentukan sendiri pimpinan daerah mereka. Dengan cara ini maka cara pengangkatan oleh orang pusat seperti zaman sebelumnya akan berakhir. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa alat-alat politik partisipatoris rakyat di tingkat lokal sama sekali tidak siap dalam pertarungan elektoral pilkada. Akibatnya, pilkada diambil alih dan dikuasi oleh alat-alat dan struktur politik milik partai atau kekuatan politik milik partai yang memiliki dukungan birokrasi dan logistik yang ta terbatas dan memang khusus disiapkan untuk pilkada. Tidak mengherankan jika kemudian pilkada semakin menjauh dari sosok idealnya. Pilkada tidak lain adalah turunan dari oligarki pusat dalam baju oligarki lokal. Didalam Jurnal Wacana Edisi 21 Tahun VI 2005 terdapat beberapa bagian yang meliputi Pengantar, Kajian, Kasus, dan Rehal. Adapun isi dari bagian tersebut meliputi di dalam Pengantar terdapat tulisan dari Wilson berjudul Demokrasi dan Sosial Progress. Kajian meliputi Demokrasi Partisipatoris : Contoh Kasus Pemilihan Umum di Kuba (Coen Husain Pontoh); Pilkada dan Kaum Pergerakan : Belajar Bersatu, Belajar Untuk Dewasa (Dita Indah Sari); Pilkadal : Menguntungkan Oligarki Kekuasaan atau Konsolidasi Gerakan Rakyat (Simon); Menakar Perlawanan Politik Elektoral : Pengalaman Gerakan Rakyat di Bengkulu (Hendra Budiman). Pada bagian Kasus terdapat tulisan dari Siti Aminah yang berjudul Pilkada : otonomi Elitis Vs Otonomi Rakyat. Sedangkan di Rehal membahas mengenai Mengganti Globalisasi Ekonomi Menjadi Lokalisasi Demokrasi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain