Text
MATA HARI TERBIT DAN TIRAI BAMBU : PERSAINGAN DAGANG JEPANG-CINA
Buku ini meunjukkan bahwa selama krisis 1930-an dan 1990-an, Jawa menjadi pasar yang diperebutkan antara kepentingan perdagangan impor Jepang dan Cina. Dalam kedua periode sebelum krisis, komunitas bisnis Cina telah menjadi bagian integral perkembangan pasar impor Jawa. Menimbang peranan mereka yag dominan dalam ekonomi Jawa, penetrasi perdagangan impor Jepang pada mulanya yang banyak bersandar pada komunitas Cina dan jaringan mereka dalam memulai kegiatan bisnis. Meskipun peranan Jepang dalam pasar impor Jawa tumbuh secara substansial sebelum krisis 1930-an, kehadiran mereka tidak banyak dipandang sebagai ancaman serius terhadap posisi bisnis Cina. Demikian pula, selama prakrisis 1990-an, komunitas bisnis Cina dan jaringan mereka di Jawa memainkan peranan instrumental dalam memfasilitasi kembalinya perdagangan impor Jepang. Munculnya Jepang sebagai penyuplai utama kebutuhan impor Jawa dan tumbuhnya kehadiran para pedagang Jepang dengan jaringan mereka sendiri segera dirasakan sebagai ancaman bagi para pedagang Cina. Demikian pula krisis 1990-an membawa perubahan radikal dalam perdagangan pasar impor Jawa. Disini Jepang berhasil memperoleh kembali posisi dominan dalam pasar Jawa pada era Orde Baru. Normalisasi hubungan bilateral Indonesia-Cina tidak otomatis menggeser signifikan Jepang bagi Indonesia. akan tetapi sejak krisis 1998 impor dari Cina tumbuh dengan pesat dan segera melebihi impor dari Jepang. Cina akhirnya mengambil alih posisi Jepang sebagai penyuplai terbesar kebutuhan impor Jawa. Dari segi pecundangdan pemenang, dapat dikatakan bahwa dalam krisis 1930-an, perdagangan impor Jepang dan berbagai kepentingan terkait adalah pemenangnya. Akan tetapi, dalam krisis 1990-an, adalah perdagangan impor Cina dan berbagai kelompok kepentingan yang terkaitlah yang menjadi pemenang.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain