Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of KONFLIK DAN PERUBAHAN SOSIAL KAJIAN SEJARAH PERLAWANAN TIGA KERAJAAN TERHADAP PEMERINTAH HINDIA BELANDA DI SULAWESI SELATAN ABAD XIX
Penanda Bagikan

Text

KONFLIK DAN PERUBAHAN SOSIAL KAJIAN SEJARAH PERLAWANAN TIGA KERAJAAN TERHADAP PEMERINTAH HINDIA BELANDA DI SULAWESI SELATAN ABAD XIX

MUHAMMAD AMIR - Nama Orang; SYAHRIR KILA - Nama Orang; ROSDIANAH HAFID - Nama Orang;

Konflik antara pemerintah Hindia Belanda dengan ketiga kerajaan di Sulawesi Selatan pada paruh pertama abad ke-19, terjadi karena penolakan Kerajaan Bone, Suppa, dan Tanete atas kembalinya dan usaha pemerintah Hindia Belanda dalam memulihkan kembali kedudukan kekuasaan pemerintahan kolonialnya di daerah ini. Selain itu, juga karena ketiga kerajaan itu dengan tegas menolak undangan pertemuan dengan pemerintah Hindia Belanda dalam rangka pembahasan pembauran Kontrak Bungaya. Penolakan ketiga kerajaan itu bukan saja karena kehadiran kembali pemerintah Hindia Belanda di Sulawesi Selatan merupakan ancaman bagi eksistensi ketiga kerajaan itu, tetapi juga merupakan ancaman terhadap pengaruh dan kedudukan kekuasaan mereka atas sejumlah wilayah dan kerajaan di daerah ini beralih kepada pemerintah Hindia Belanda. Penolakan ketiga kerajaan tersebut, mendorong pemerintah Hindia Belanda melancarkan ekspedisi atau serangan militer yang kemudian memicu terjadinya konflik berupa perang terbuka antara Kerajaan Tanete, Suppa dan Bone dengan pemerintah Hindia Belanda. Selain itu, konflik antara pemerintah Hindia Belanda dengan ketiga kerajaan tersebut, juga senantiasa disertai oleh konflik internal, baik konflik kelembagaan antara dewan pemangku adat dengan raja, maupun konflik di kalangan bangsawan ana’ pattola (putra mahkota). Semua itu tentu membuat kerajaan itu semakin tidak berdaya dalam membangun kekuatan kembali dan dalam mempertahankan eksistensinya hingga akhirnya harus menerima kenyataan tunduk dibawah kekuasaan pemerintah Hindia Belanda


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
SS0-900 (900-909) MUH K
Penerbit
Sulawesi Selatan : DE LA MACCA., 2012
Deskripsi Fisik
vii + 320 hlm; 15cm x 20,8cm
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-3897-64-6
Klasifikasi
SS0-900 (900-909)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?