Text
SISTEM PEMERINTAHAN TRADISIONAL DI NUSA TENGGARA TIMUR
SISTEM PEMERINTAHAN TRADISIONAL DI NUSA TENGGARA TIMUR
Upaya pembangunan dewasa ini telah menunjukkan hasilnya di seluruh pelosok tanah air, termasuk Nusa Tenggara Timur. Secara langsung ataupun tidak langsung di wilayah-wilayah itu tidak terlibat dalam proses pembangunan yang ditujukan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk. Walaupun tingkat intensitas kontak budaya di antara masyarakat suku bangsa itu berbeda, dan pada gilirannya menyebabkan perbedaan tingkat perkembangan kebudayaan. Setiap suku bangsa, sudah mengalami kontak-kontak budaya dengan masyarakat luar. Norma-norma, nilai-nilai, aturan-aturan atau wujud ideal dari kebudayaan Nusa Tenggara Timur tidak setiap saat diaktifkan dalam aktifitas mereka sehari-hari. Pengaktifan tergantung bermanfaat atau tidaknya dalam interaksi dilingkungan mereka yang baru. Bahkan asal usul, mitologi dan daerah asal masyarakat Nusa Tenggara Timur hanya digunakan sebagai salah satu kerangka acuan dan akan diaktifkan kalau dianggap menguntungkan. Dengan melihat masyarakat Nusa Tenggara Timur sebagai bagian dari masyarakat Indonesia, maka bermanfaat atau tidaknya identitas kesukubangsaannya bergantung pada berguna atau tidaknya identitas itu dalam menghadapi kenyataan sosial untuk bertahan hidup. Ada 3 faktor luar yang turut memberi warnadalam perkembangan kebudayaan Nusa Tenggara Timur yaitu Kehadiran misionaris Katolik maupun Protestan yang telah lama menetap di daerah itu yang telah merubah pandangan hidup masyarakat Nusa Tenggara Timur; Para pedagang yang berasal dari Propinsi lain di Indonesia, telah mengajarkan dan memperkenalkan penggunaan uang sebagai alat tukar disamping mengajarkan cara menghitung rugi-laba dalam perdagangan; Aparat pemerintah yang telah berada di wilayah itu sebagai konsekuensi menjadi bagian dari wilayah Indonesia, telah mendirikan kantor-kantor.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain