Text
BERKALA ARKEOLOGI SANGKHAKALA VOL. 20 NO. 1 MEI 2017
Berkala Arkeologi Sangkhakala terdiri dari dua kata yaitu Sangkha dan Kala. Sangkha adalah sebutan dalam bahasa Sansekerta untuk jenis kerang atau siput laut. Dalam mitologi Hindu Sangkha digunakan sebagai atribut dewa dalam sekte Siwa dan Wisnu. Sedangkan kala berarti waktu, ketika atau masa. Jadi Sangkhakala merupakan alat dari kerang laut yang mengeluarkan suara sebagai tanda bahwa waktu telah tiba untuk memulai suatu tugas atau pekerjaan. Berkala Arkeologi Sangkhakala Volume 20 Nomor 1, Mei 2017 ini memuat 5 (lima) artikel, meliputi :
1. Andri Restiyadi dan Churmatin Nasoichah, dalam tulisannya yang berjudul Praktik Kolonialisme dalam Eksistensi Uang Kebon, Pada Perkebunan Sumatera Timur Abad Ke 19-20 ( Sebuah Pendekatan Arkeologi Marxis) Colonialism Practice in Uang Kebon’s Existence, at The East Sumatra Plantation in the 19th-20th Century (A Marxist Archaeological Approach)
2. I Wayan Badra, berjudul Temuan Gerabah di Pura Wasan, Blahbatuh, Gianyar (Suatu Pendekatan Etnoarkeologis) Pottery Found at Pura Wasan (Wasan Temple), Blahbatuh, Gianyar ( An Ethnoarchaeological Approach)
3. Ketut Wiradnyana, berjudul Mereposisi Fungsi Menhir dalam Tradisi Megalitik Batak Toba Repositioning of Menhirs Functions in Megalithic of the Batak Toba Tradition
4. Nenggih Susilowati, berjudul Representasi Relief Ogung (Gong) Pada Kubur Kuna Situs Sutan Nasinok Harahap, Kecamatan Batang Onang, Kabupaten Padang Lawas Utara, Sumatera Utara Representation of Ogung (Gong) Relief On Ancient Cemetery Site of Sutan Nasinok Haraha, in Batang Onang, North Padang LAwas, North Sumatera
5. Wayan Sumerata, Gendro Keling, dan Ati Rati Hidayah, berjudul Potensi Sumber Daya Arkeologi Maritim di Sepanjang Pantai Tejakula, Buleleng, Bali The Potency of Maritime Archaeological Resources a Long Tejakula Coast I, Buleleng, Bali
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain