Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SUMATERA BARAT
Penanda Bagikan

Text

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SUMATERA BARAT

DRS. AMIR B. - Nama Orang;

DAMPAK MODERNISASI TERHADAP HUBUNGAN KEKERABATAN DAERAH SUMATERA BARAT
Tidak dapat disangkal lagi bahwa kedudukan suami dalam masyarakat Minangkabau sekarang ini sudah mengalami perubahan besar. Perubahan besar itu terjadi karena terjadi kontak kebudayaan dengan bermacam-macam kebudayaan suku bangsa yang ada di tanah air kita, serta kebudayaan asing yang masuk ke daerah tersebut. Perpindahan pentingnya peranan dari mamak kepada bapak sebagai akibat perkembangan masyarakat membawa pergeseran peranan suami dalam rumah tangga Minangkabau. Sejalan dengan perubahan diatas, terjadi pula perubahan dalam orientasi terhadap kerabat. Orang Minangkabau yang terkenal dengan sikap hidupnya yang komunal mulai bergeser ke arah yang individual. Sejalan dengan tuntutan emansipasi, maka kedudukan isteri dalam rumah tanggapun mulai berubah. Tidak dapat disangkal lagi kenyataannya bahwa dalam dekade 20 tahun terakhir ini telah terjadi perubahan besar dalam sistem kekerabatan orang minangkabau di Sumatera Barat. Adat istiadat mereka yang kokoh dan kuat ternyata tidak mampu bertahan terhadap perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat akibat kontak kebudayaan. Falsafah adat mereka yang mengatakan "adat yang tidak lekang dengan panas dan tidak lapuk dengan hujan", tidak dapat dipertahankan lagi terhadap perubahan. Orang Minangkabau mengganti dengan memakai falsafah yang baru yaitu : "sekali air besar, sekali tepian berubah". Adat harus bisa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, demi kelestariannya.


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
-
Penerbit
Sumatera Barat : DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN., 1983/1984
Deskripsi Fisik
-
Bahasa
ISBN/ISSN
-
Klasifikasi
2.3(300-31
Tipe Isi
-
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?