Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of Kilasan Sejarah dan Arkeologi Beberapa Gedung Gereja di Sumatera Utara
Penanda Bagikan

Text

Kilasan Sejarah dan Arkeologi Beberapa Gedung Gereja di Sumatera Utara

LUCAS PARTANDA KOESTORO - Nama Orang;

Sejarah pengkristenan di Sumatera Utara dalam hubungannya dengan kontak budaya, diketahui bahwa misionaris merupakan penyebar terkemuka budaya asing dan zending adalah lembaga penyelenggara pendidikan. Di Tano Batak, zending Jerman memasukkan unsur-unsur budaya yang menjadi tradisi dalam kebudayaan di Jerman dalam tata cara pelayanan gereja Batak. Gedung gereja dibangun menurut gaya Jerman yang sama sekali berbeda dengan gaya bangunan Batak yang bercirikan atap yang indak melengkung. Demikian pula dengan kebiasaan menempatkan lonceng besar di menara gereja. Lambat laun orang Batak menjadi terbiasa dengan hal itu dan beranggapan bahwa sebuah bangunan gereja yang lengkap harus dibuat menurut gaya khas tersebut. Sejumlah fakta yang didapat melalui pengamatan atas beberapa gedung gereja di Sumatera Utara merupakan data penting guna pengungkapan bagi pengenalan berbagai aspek kehidupan manusia masa lalu di wilayah tersebut. Dapat dikemukakan bahwa, bangunan gedung gereja pada masa awal pertumbuhan dan perkembangan. Kristen di Sumatera Utara menggunakan konstruksi dinding bata dan atap pelana. Bangunan memiliki banyak bukaan berbentuk persegi panjang. Fasad bangunan hampir simetris, dengan adanya menara di sisi kiri bangunan memberikan variasi pada bentuk bangunan. Secara keseluruhan memiliki signifikansi estetika yang spesifik, yang memperkuat karakter kawasan. Gaya arsitektur neoklasik dan gaya arsitektur borjuisi Belanda/Eropa, segera disesuaikan dengan iklmim tropis. Plafonnya tinggi, dinding tebal, lubang ventilasi ditempatkan di berberbagai sudut, jendela lebar berkisi. Memelihara keberadaan gedung gereja lama, baik yang masih difungsikan sebagai tempat peribadatan pokok maupun fungsi lain berkenaan dengan kekristenan adalah juga upaya menjaga kelestarian warisan budaya.




Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
AGA-275.98 (270-279) LUC K
Penerbit
Medan : BINA MEDIA PERINTIS BALAI ARKEOLOGI SUMATERA UTARA., 2015
Deskripsi Fisik
ix + 115hlm;14,7cm x 21cm;ILUS
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-979-751-827-1
Klasifikasi
AGA-275.98 (270-279)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?