Text
SEJARAH PERKEMBANGAN MUHAMMADIYAH DI ACEH
Muhammadiyah pada awal kehadirannya di Aceh dikenal mempunyai suatu ciri khas tersendiri yaitu dengan terlibatnya organisasi ini dalam bidang politik. Pada awal perkembangannya Muhammadiyah mendapat dukungan dari elite adat dengan terlibatnya Teuku Muhammad Hasan Glumpang Payong sebagai Konsul Muhammadiyah yang pertama dan diteruskan oleh Teuku Cut Hasan anggota keluarga uleebalang Meuraksa. Berkaitan dengan tidak semua golongan di Aceh yang menyambut baik organisasi Muhammadiyah, menyebabkan perkembangan gagasan dan organisasi ini menjadi lamban. Kelambatan organisasi ini untuk diterima disebabkan beberapa hal, diantaranya pada awal kehadirannya organisasi ini dilihat sebagai kumpulan orang-orang sekolahan dan perantau sedangkan kondisi masyarakat pedesaan waktu itu belum terpelajar. Selain itu Muhammadiyah tidak diterima karena paham yang dibawa kembali untuk memurnikan ajaran Islam dari pengaruh bid'ah dan khurafat dan kembali pada Alquran dan Hadist sebagai dasar dan tolak ukur dalam pemurnian agama Islam. Selain itu mengajak umat Islam untuk menjalankan amar makruf nahi munkar. Sehingga ada awal kehadirannya Muhammadiyah sempat mendapat julukan sebagai "kristen halus". Dalam menghadapi berbagai tantangan tersebut dibandingkan dengan organisasi lain yang lebih banyak terjun dalam politik, Muhammadiyah lebih banyak bergerak dalam bidang dakwah, pendidikan dan kesejahteraan sosial yang hasilnya baru dapat dinikmati dalam waktu yang cukup panjang. Dalam konteks kekinian, keberadaan Muhammadiyah semakin ditantang dalam menegakkan pemberlakuan Syariat Islam di Bumi Serambi Mekkah yang sampai detik ini belum berjalan sebagaimana mestinya.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain