Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat

  • Beranda
  • Informasi
  • Berita
  • Bantuan
  • Pustakawan
  • Area Anggota
  • Pilih Bahasa :
    Bahasa Arab Bahasa Bengal Bahasa Brazil Portugis Bahasa Inggris Bahasa Spanyol Bahasa Jerman Bahasa Indonesia Bahasa Jepang Bahasa Melayu Bahasa Persia Bahasa Rusia Bahasa Thailand Bahasa Turki Bahasa Urdu

Pencarian berdasarkan :

SEMUA Pengarang Subjek ISBN/ISSN Pencarian Spesifik

Pencarian terakhir:

{{tmpObj[k].text}}
Image of IDENTIFIKASI TRANSPORTASI LAUT DI KABUPATEN BIAK NUMFOR SAMPAI ABAD 21
Penanda Bagikan

Text

IDENTIFIKASI TRANSPORTASI LAUT DI KABUPATEN BIAK NUMFOR SAMPAI ABAD 21

DESY P USMANY - Nama Orang; SABERIA - Nama Orang; DINAR - Nama Orang;

Orang Biak Numfor adalah penduduk asli Papua yang berasal dari pulau Biak, Supiori, Numfor dan beberapa pulau kecil. Mereka memiliki sistem kekerabatan yang disebut keret. Dalam kepercayaan tradisional, mereka percaya pada Nanggi (dewa tertinggi), roh baik dan jahat, roh leluhur dan roh orang mati lainnya. Sebagai masyarakat bahari, laut merupakan media penghubung bagi mereka disamping mata pencahariannya. Perahu merupakan alat trasportasi yang mereka pakai untuk melakukan pelayaran. Dengan perahu ini orang Biak Numfor berlayar ke Barat dan Timur. Perahun yang digunakan untuk jarak jauh adalah wairon, mansusu, dan karures. Sedangkan untuk kegiatan sehari-hari digunakan karambow dan kawasa. Selama romangguandi (skorpio) berada diangkasa, masa itu merupakan masa tenang untuk berlayar yang terjadi pada bulan Maret hingga Agustus. Sebelum bahkan sesudah masuknya Belanda di Biak Numfor, orang Biak menggunakan perahu layar tanpa mesin sebagai alat transportasi laut menuju ke berbagai arah. Perbedaan antara sebelum dan sesudah Belanda adalah diperkenalkannya transportasi laut bermesin seperti kapal api dan motor tempel. Bahkan untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, Belanda memberikan kredik kepemilikan perahu motor kepada nelayan yang sungguh-sungguh mau mencari nafkah lewat penangkapan dan penjualan hasil laut. Setelah masuknya Belanda, transportasi laut semakin berkembang, orang Biak sudah berlayar dengan menggunakan kapal api Belanda atau perahu bermotor. Sejak tahun 1960an hingga 2000an transportasi laut di Biak terus berkembang menjadi lebih modern, seperti adanya kapal perintis, tombato, kapal putih, dan kepal-kapal besra lainnya. Setelah pepera, pemerintah Indonesia mulai membangun Biak Numfor. Sarana dan prasarana seperti jalan dan jembatan dibangun. Berkembangnya Biak dalam sektor ekonomi mempercepat laju pertumbuhan sektor swasta dalam bidang jasa.  


Ketersediaan

Tidak ada salinan data

Informasi Detail
Judul Seri
-
No. Panggil
SKO - 959.8 (950-959) DES I
Penerbit
Papua : AMARA BOOKS., 2016
Deskripsi Fisik
xi + 116 hlm; 15,5cm x 23cm; ILUS
Bahasa
Indonesia
ISBN/ISSN
978-602-6525-12-3
Klasifikasi
SKO - 959.8 (950-959)
Tipe Isi
text
Tipe Media
-
Tipe Pembawa
-
Edisi
-
Subjek
-
Info Detail Spesifik
-
Pernyataan Tanggungjawab
-
Versi lain/terkait

Tidak tersedia versi lain

Lampiran Berkas
Tidak Ada Data
Komentar

Anda harus masuk sebelum memberikan komentar

Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII Kalimantan Barat
  • Informasi
  • Layanan
  • Pustakawan
  • Area Anggota

Tentang Kami

As a complete Library Management System, SLiMS (Senayan Library Management System) has many features that will help libraries and librarians to do their job easily and quickly. Follow this link to show some features provided by SLiMS.

Cari

masukkan satu atau lebih kata kunci dari judul, pengarang, atau subjek

Donasi untuk SLiMS Kontribusi untuk SLiMS?

© 2026 — Senayan Developer Community

Ditenagai oleh SLiMS
Pilih subjek yang menarik bagi Anda
  • Karya Umum
  • Filsafat
  • Agama
  • Ilmu-ilmu Sosial
  • Bahasa
  • Ilmu-ilmu Murni
  • Ilmu-ilmu Terapan
  • Kesenian, Hiburan, dan Olahraga
  • Kesusastraan
  • Geografi dan Sejarah
Icons made by Freepik from www.flaticon.com
Pencarian Spesifik
Kemana ingin Anda bagikan?