Text
JANTRA JURNAL SEJARAH DAN BUDAYA VOL 8 NO 2 DESEMBER 2013
Jantra Vol 8 No 2 memuat 8 artikel sejarah dan budaya, yaitu Upacara Adat Nyanggring Sebagai Wahana Ketahanan Budaya yang ditulis oleh Siti Munawaroh, yang menguraikan tentang adat Nyanggring di Desa Tlemang Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Upacara Adat Mamapas Lewu (Upaya Mempertahankan Budaya Suku Dayak Ngaju di Kalimantan Tengah), yang ditulis oleh Neni Puji Nur rahmawati, menguraikan tentang upacara adat mamapas lewu pada budaya suku Dayak Ngaju. Nilai-nilai budaya yang bisa dipetik dari pelaksanaan upacara adat Mamapas Lewu ini adalah penghormatan terhadap leluhur, gotong royong, ketertiban, kepatuhan, pendidikan dan aset wisata. Tradisi Adat Jaro Rojab di kabupaten Banyumas : Wahana Transformasi Budaya Gotong Royong dan Kedermawanan, yang ditulis oleh Suyami menguraikan tentang tradisi Jaro Rojab yang sarat nilai kegotongroyongan dan kedermawanan.
Tradisi Penganti Jawa sebagai Wahana Ketahanan Bangsa, yang ditulis oleh Taryati menguraikan tentang lestarinya tradisi pengantin Jawa dikarenakan selain masyarakat menganggap sakral sehingga ada yang ketakutan bila tidak melakukannya juga adanya pemahaman bahwa tradisi ini merupakan warisan nenek moyang yang mengandung ajaran luhur. Upacara Tradisional hak-hakan di Wonosobo sebagai Salah Satu Sarana Pendidikan Karakter, ditulis oleh Sujarno menguraikan bahwa tradisi Hak-hakan secara tidak langsung merupakan ajang pendidikan karakter bagi generasi muda masyarakat setempat. Ritual Adat Upacara Palebon, yang ditulis oleh Noor Sulistyobudi, menguraikan bahwa upacara Palebon mengingatkan akan keberadaan manusia hanyalah sebagian kecil dari alam semesta sehingga harus menjaga keselarasan alam sepanjang hayat.
Upacara Tradisi Wilujengan Negari Mahesa Lawung Keraton Surakarta di Krendhawahana, yang ditulis oleh Sumarno menguraikan bahwa tradisi Wilujengan Negari Mahesa lawung yang dilaksanakan oleh Keraton Surakarta sampai sekarang masih bermanfaat bagi masyarakat pendukungnya. Upacara ini merupakan satu bentuk kearifan masyarakat dalam memahami alam dunia serta wujud nyata dalam menggapai hubungan yang harmonis. Ritual Suguh Pundhen : Makna Simbolis Wayang Topeng pada Ritual Tradisional di Desa Kedungmonggo Malang Jawa Timu, yang ditulis oleh Robby Hidajat menguraikan bahwa kamituwa bersifat maskulin atau panjer simbol urip (hidup), pundhen bersifat feminin atau sakral (manifestasi sakti) simbol sih atau sih langgeng (cinta abadi), yaitu sing nguripi, dan belik atau air, tirta pawitra yaitu kehidupan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain