Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 16 NO 1
Patrawidya Vol 16 No 1 menghadirkan delapan artikel sejarah dan budaya. Dua artikel membahas tentang bertemunya penduduk lokal dengan pendatang . Artikel Cahyo Pamungkas yang menjadi pembuka edisi Maret ini, membahas tentang hubungan antar umat beragama di Kaimana, yang dilihat dari perspektif sejarah. Perjumpaan antara pendatang baik yang Muslim, Kristen dan yang lainnya tidak menjadi masalah bagi orang Kaimana sebab mereka memiliki identitas keluarga yang menjadi pemersatu. Tulisan lainnya dari Jumhari yang membahas tentang integrasi sosial antara penduduk lokal dengan pendatang di Kota Bengkulu.
Masih dalam ranah artikel kesejarahan, Lucia Juningsih hadir melalui hasil penelitiannya tentang transformasi sosial ekonomi migran kembali di Kabupaten Grobogan. babagan waktu yang diambil antara tahun 1990-2010. Migran tersebut semula bekerja di Malaysia. hasil penelitiannya menunjukkan bahwa para migran-kembali dapat dibedakan dalam dua kelompok, yakni kelompok yang mengalami mobilitas sosial vertikal dan kelompok yang tidak mengalami transformasi sosial ekonomi (hanya mengalami mobilitas horisontal) dari buruh kembali ke buruh, posisi mereka tetap di pinggiran. Kontestasi Pelestarian Warisan Budaya di Trowulan menjadi perhatian Sugih Biantoro. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa relasi antar pihak yang berkepentingan dapat menciptakan kontestasi antar mereka dan besar pengaruhnya terhadap keberhasilan upaya pelestarian di Trowulan. Artikel wacana "Satu Bahasa" dalam Historiografi Pendidikan Indonesia di tulis oleh Hieronymus Purwanta yang menggali kepentingan dan idiologi yang berada di balik wacana "satu bahasa" yang diproduksi dan reproduksi oleh pemerintah Orde Baru.
Artikel yang lain yaitu ditulis oleh Heksa Biopsi Puji hastuti yang mengupas tentang Aktualisasi Adat Suku Tolaki yang dilihat dari Simbol Kalo dalam mitos Oheo. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam mitos Oheo simbol kalo hadir dalam pokok adat sara mbedulu (pokok adat dalam hubungan kekeluargaan dan persatuan) dan sara mandara (pokok adat pekerjaan ketrampilan dan keahlian). Sumintarsih menulis tentang Makna Sapi Kerapan dari Perspektif Orang Madura Kajian Sosial, Ekonomi, Budaya dengan pendekatan etnosains. Dalam praktiknya sapi kerapan terkandung makna relasional, dan ambisi juragan pemilik sapi untuk memperoleh kemenangan. Surono dengan artikel berjudul Kentongan : Pusat Informasi, Identitas dan Keharmonisan pada Masyarakat Jawa. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa kentongan di masyarakat Jawa berfungsi sebagai pesan ritual keagamaan, pesan akan terjadinya sesuatu, dan sarana mengundang seseorang untuk hadir dalam acara tertentu.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain