Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 13 NO 3
Edisi September 2012 memuat delapan artikel, diawali oleh tulisan yang sangat bagus dari penulis undangan, Heddy Shri Ahimsa-Putra, yang mengupas tentang konsep "baik" dan "buruk" dalam budaya Jawa. Menurut Heddy Shri Ahimsa-Putra "baik' dan 'buruk" diterapkan oleh masyarakat Jawa dalam sifat-sifat individu sebagai kepribadian, serta muncul dalam prilaku bermasyarakat terhadap sesama. Meskipun ada dikotomi "baik" dan "buruk" bagi orang Jawa yang ideal adalah yang berada di antara "yang baik" dan "yang buruk". Ahimsa-Putra juga menyimpulkan bahwa perangkat nilai-nilai tersebut bersifat dinamis dan selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Artikel berikut ditulis oleh Ambar Adrianto yang membahas tentang Paguyuban Sangkan Paraning Dumadi Sri Jayabaya di Kediri, dengan fokus pada nilai ajaran dan penghayatan. Paguyuban tersebut mempunyai ajaran yang berbasis nilai religius dan nilai moral. Adapun penghayatannya meliputi tatacara penghayatan, sarana pemujaan, doa-doa serta mantera. Artikel lain dalam edisi ini berisi artikel yang membahas Seni Tradisi Barong dan Mitologi Masyarakat Using, tulisan Christriyati Ariani. Hasil penelitiannyamenunjukkan bahwa dalam struktur cerita Barong selalu menampilkan tokoh-tokoh cerita yang memiliki sifat berbalikan, baik dalam hal penokohan maupun alur cerita. Barong Kemiren dianggap suci oleh masyarakat Kemiren sebagai "pemilik" budaya tersebut. Masih dalam bidang budaya, tulisan Sunaryadi, membahas tentang budaya istana khususnya tari kraton relevansinya dalam pembentukan karakter, yang terekam melalui falsafah joged Mataram, yakni sawiji, greget, seungguh, dan ora mingkuh. Menurut Sunaryadi tari kraton mengandung ajaran yang menempatkan rasa sebagai ruh dan pengendalian diri. I wayan Dana membahas tentang Revitalisasi Nilai-Nilai Seni dan Budaya Nusantara dari Masa ke Masa. Menurut Wayan Dana ternyata mengalami perubahan nilai tuntunan, tatanan maupun tontonan sesuai jiwa zaman masyarakat setempat. Revitalisasi dijalankan untuk memperkokoh, dan mengekspresikan keragaman budaya. Artikel yang cukup menarik ditulis oleh Su Ritohardoyo tentang permukiman rawan banjir rob dengan mengambil studi di pesisir Kota Pekalongan. Persepsi masyarakat di lokasi penelitian terhadap banjir rob bahwa itu sebagai gangguan, namun karena sudah sring dialami maka masyarakat menganggap sebagai fenomena biasa. Adaptasi yang dilakukan masyarakat dengan sikap bertahan, mentolerir dan menerima fenomena banjir rob. Dua tulisan lainnya berisi tentang kesejarahan yakni tulisan Retna Astuti yang membahas pengabdian seorang senian ludruk dari Jawa Timur, Umi Khalsum. Dedikasi Umi Khalsum dalam seni ludruk diapresiasi oleh propinsi Jawa Timur dengan memberinya sebuah penghargaan. Retna Astuti membingkai semangat, kerja keras dan latar kehidupan Umi Khalsum dengan model tulisan biografi. Tulisan lain membicarakan tentang aktivitas kaum muda yang tergabung dalam Tentara Genie Pelajar (TGP) dalam masa revolusi tulisan Tugas Tri Wahyono. Artikel ini direkonstruksi berdasarkan sumber primer dari para pelaku sejarah. Revolusi ternyata tidak hanya berkaitan dengan mengangkat senjata, sebab dari temuan Tugas Tri Wahyono, para pelaku sejarah juga menceritakan pengalaman hidup yang lucu-lucu tatkala mereka terjun ke medan revolusi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain