Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 13 NO 4
Patrawidya Vol 13 No 4 memuat beberapa artikel sejarah dan budaya. R. Rijanta yang membahas tentang Diversifikasi Pedesaan pada Masyarakat DIY : Basis Sosio Kultural Menuju Ekonomi Kreatif menurut Rijanta, kegiatan non pertanian di daerah pedesaan muncul sejak masa kolonial. Hal itu tampak dari tumbuhnya sektor kerajinan, dan ternyata barang-barang produksi non pertanian tersebut keberadaannya sampai sekarang menjadi basis menuju ekonomi kreatif. Sujarno menyumbangkan artikel yang membahas tentang kearifan lokal di Magelang mellaui tradisi sedekah bumi Punthuk Setumbu. hasil penelitian Sujarno menunjukkan bahwa sedekah bumi Punthuk Setumbu sebagai pengendali sosial sekaligus hiburan. Nilai yang terpancar dalam ritual adat itu adalah gotong royong, pendidikan, solidaritas, musyawarah, dan ekonomi. Pagelaran ritual tersebut juga menjadi salah satu wahana pelestarian budaya khususnya dalam hal ritual yang hidup di masyarakat. Sebuah tulisan yang cukup menarik membahas tentang modal sosial dengan mengambil kasus petani di Lereng Merbabu. Artikel tersebut ditulis oleh Sumintarsih yang menyebutkan bahwa modal sosial yang dimilki masyarakat bersangkutan sangat berfungsi dan dimanfaatkan untuk kepentingan kelancaran usaha tani masyarakat Lereng Merbabu. Modal sosial tersebut adalah kegotongroyongan yang dilandasi oleh nilai-nilai kepercayaan, disiplin, kejujuran, dan kerbersamaan. Tulisan lain sumbangan dari Nur Said yang membahas tentang Pergeseran Nilai Budaya Jawa mellaui Sinetron "Jejak Bisu". Menurut Nur Sahid sinetron tersebut merupakan simbolisasi runtuhnya nilai-nilai feudal dalam masyarakat Jawa akibat derasnya modernisasi. Edisi kali ini juga memuat tentang suluk nalakirdha yang dibedah Endah Susilantini dan dikaji tentang nilai yang terkandung dalam naskah kuna tersebut. Nilai-nilai yang terkandung dalam serat adalah nilai etik meliputi nilai kesetiaan, kecermatan, dan kegigihan, selain itu juga ada nilai filosofis dan nilai spiritual. artikel selanjutnya ditulis oleh S. Wisni Septiarti dkk, yang mengupas tentang fenomena pemberdayaan aksarawan perempuan setelah mengikuti program keaksaraan fungsional, untuk memotivasi para aksarawan perempuan untuk menulis di koran ibu namun belum terealisasi. Naskah lainnya berisi nilai-nilai yang terkandung dalam upacara adat larung Sesaji, tulisan I.W.Pantja Sunjata. Nilai-nilai yang terkandung dalam upacara itu adalah nilai ketaqwaan, etos kerja, pelestarian budaya, kearifan lingkungan hidup dan nilai gotong royong. Edisi ini ditutup oleh tulisan Dwi Ratna Nurhajarini tentang proses dan hasil asimilasi Etnis Tionghoa di Kota Pasuruan. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proses asimilasi terjadi melalui komunikasi dengan bahasa Indonesia dan bahasa Jawa. Di samping itu juga karena kedekatan tempat tinggal serta melalui perkawinan.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain