Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 12 NO 3
Patrawidya Vol 12 No 3 memuat beberapa artikel tentang sejarah dan budaya. Setiadi mengawali edisi ini dengan kajian tentang dampak migrasi terhadap dinamika otonomi perempuan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat. Menurut Setiadi meningkatnya pendapatan perempuan sebagai tenaga kerja dan pencari nafkah dalam keluarga ternyata meningkatkan rasa percaya diri perempuan dan posisi tawar menawar dalam keluarga ternyata meningkatkan rasa percaya diri perempuan dan posisi tawar menawar dalam keluarga dan rumah tangga, namun tidak terjadi dalam masyarakat. Kajian tentang perempuan ditulis oleh Mutiah Amini dengan titikberat usaha peningkatan prasarana dan sarana kesehatan bagi ibu dan anak yang dilakukan pemerintah lokal Kota Semarang pada akhir masa kolonial. Perbaikan itu meliputi penciptaaan lingkungan sosial yang sehat, pemberian keterampilan bagi tenaga kesehatan hingga pemberian propoganda kesehatan. Kepemilikan tanah di wilayah kerajaan yang bertumpu pada sistem feodal ditulis oleh Harto Yuwono. Sistem feodal di Surakarta mulai mengalami perubahan sejak tahun 1857 ketika ada penerapan peraturan sewa tanah. Dampak dari sistem kepemilikan tanah menurut hukum Barat tersebut mencapai puncaknya akhir abad XIX ketika Sunan harus menerima kenyataan pemberlakuan hak milik individu di pusat kekuasaannya. Masih tentang warisan budaya istana, Sumarno mengupas ajaran moral, ketauhidan dan kesempurnaan hidup dalam Serat basuki Lan Raharja yang ditulis pada masa Kerajaan Surakarta. Ajaran moral berupa rendah hati, dermawan, penyabar, pemaaf serta baik hati tetap relevan sampai masa sekarang. Naskah kuno yang sarat dengan nilai-nilai filosofis juga ditulis oleh Endah Susilantini yang mengupas Suluk Seh Melaya. Perjalanan hidup Seh Melaya sampai ke tengah samudra dan mendapat tuntunan tentang ilmu kesempurnaan hidup dari Nabi Kidir, penuh dengan ajaran moral dan spiritual juga ajaran religi. Tokoh dalang wayang topeng dari Yogyakarta menjadi kajian dari Suhartinah. Pelestari wayang topeng dapat dikatakan tidak ada lagi sepeninggal Ki Sugito Hadiwarsito. Kearifan lokal masyarakat di Wonosobo yang terekpresikan dalam tradisi ruwatan ditulis oleh Sujarno. Tradisi ruwatan digelar agar manusia terhindar dari marabahaya dan agar keseimbangan kembali terjaga. Air kawah Candradimuka yang diyakini masyarakat memiliki kekuatan dipakai sebagai media ruwatan. Asimilasi kultural masyarakat Tionghoa dan Madura di Kabupaten Situbondo ditulis oleh Retno Winarni dan A. Lilik Slamet Raharsono. Asimilasi yang terjadi akibat adanya faktor intern berupa perubahan orientasi etnis Tionghoa yang berhubungan dengan bidang politik, sosial dan budaya, sedangkan faktor ekstern berupa produk peraturan pemerintah yang berkaitan dengan asimilasi dan integrasi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain