Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 11 NO 2 JUNI 2010
Patrawidya Vol 11 No 2 memuat tentang artikel pemerintahan dan suksesi politik di Karesidenan Besuki (1863-1942) dari Retno Winarni, sistem rekruitmen bupati berdasarkan aturan birokrasi modern yang legal rasional tidak semuanya dapat diterapkan. Dalam prakteknya ketrampilan dan sistem keturunan juga menjadi unsur yang berpengaruh dalam pengangkatan seorang bupati. artikel kesejarahan ditulis oleh Tugas Tri Wahyono, tentang aktivitas gerilya komandan SWK 106, Mayor Ahmadi, di Kota Solo. Mayor Ahmadi beserta pasukannya melakukan serangan yang cukup besar dan sangat berpengaruh dalam perjuangan masa Perang Kemerdekaan II di Kota Solo dilakukan pada tanggal 7-10 Agustus 1945 terhadap Kota Solo. Artikel tentang Gereja Katolik Hati Kudus Ganjuran (1924-1950), menjadi fokus tulisan Hisbaron Muryantoro. Gereja Hati Kudus turut membangun masyarakat sekitar melalui kegiatan keagamaan, kesehatan, dan juga memajukan pendidikan masyarakat. Strategi peningkatan pendapatan petani di Tejosari menjadi fokus tulisan Emiliana Sadilah. Strategi yang dilakukan petani belum menunjukkan hasil yang optimal terbukti masih banyak petani yang keejahteraannya belum terangkat. Ch. Ariani yang mengangkat tentang makna merantau dalam budaya Bawean, dan penelitiannya menunjukkan bahwa merantau bagi orang Bawean berhubungan dengan realitas ekonomi, untuk mengangkat derajat sosial perantau dan merantau sebagai gaya hidup. Tiga kelompok kerja nelayan di Kemujan, diangkat oleh Mudjijono, dan menurut hasil penelitiannya bahwa aktivitas kenelayanan dilakukan di pinggir pantai, tengah laut dan di laut lepas, walaupun begitu aktivitas sosial dalam keluarga, tetangga dan sanak keluarga tetap berjalan. Masih di sekitar Karimunjawa, Sukari melalui penelitiannya menunjukkan bahwa masyarakat memanfaatkan terumbu karang untuk bahan bangunan dan kerajinan, mangrove untuk bahan bangunan dan kayu bakar. Untuk kelestarian sumberdaya alam batu karang tidak lagi digunakan untuk bahan bangunan. Mereka juga menanam bibit mangrove. Nilai-nilai budaya dalam Serat Tatakrama Jawi menjadi perhatian Titi Mumfangati. Hasil kajiannya menunjukkan bahwa tatakrama tersebut berlaku dalam hubungan antarmanusia baik dalam rapat, di jalan, bertamu, maupun saat bercakap-cakap. Bentuk tatakrama yang sudah ada sejak lama kemudian mengalami bentukan baru yang lebih sesuai dengan kondisi zaman.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain