Text
PATRAWIDYA SERI PENERBITAN PENELITIAN SEJARAH DAN BUDAYA VOL 10 NO 4 DESEMBER 2009
Patrawidya Vol 10 No 4 mengulas tentang konteks sosial seni pertunjukan teater tradisional di Kota Surabaya antara tahun 1950-1968 oleh Samidi, hasil penelitianya menunjukkan bahwa terjadi transformasi teater tradisional dari teater jalanan menjadi pertunjukan panggung dan proses komersialisasi seni pertunjukan tradisional tersebut memperoleh tempat di kalangan masyarakat. Kajian lain tentang seni pertunjukan di tulis oleh Darto Harnoko yang mengulas tentang perkembangan musik keroncong pada periode 1945-1980 di Yogyakarta. Di tengah derasnya pengaruh musik aliran rock dan juga jazz, keroncong ternyata tetap mendapat tempat di berbagai kalangan. Kajian tentang Surabaya juga ditulis oleh Siti Munawaroh, yang mengkaji tentang interaksi antara Suku Jawa dan Madura di Kecamatan Tegalsari. Interaksi kedua suku tersebut terjalin dengan baik melalui kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan dan dalam juga melalui kegiatan ekonomi. Tulisan dari dari Suwarno membahas tentang situs Bimolukar yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai obyek wisata andalan karena berdekatan dengan obyek wisata sejarah di kompleks percandian Dieng, Wonosobo. S. Ilmi Albiladiyah mengulas tentang krisis ekonomi yang melanda Praja Mangkunagaran pada akhir abad ke-19. Krisis ekonomi tersebut disebabkan oleh faktor intern dan ekstern. Suyami mengkaji tentang eksistensi cerita rakyat Jaka Tole dalam kehidupan masyarakat Sumenep. Jaka Tole bagi masyarakat Sumenep adalah seorang pahlawan yang dihormati dan diagungkan. Kuda yang menjadi kendaraan Jaka Tole bahkan dipakai sebagai lambang pemerintah Kabupaten Daerah Tingkat II Sumenep. Tulisan lainnya dihadirkan oleh Sumarno yang mengkaji tentang pendidikan seks dalam Serat Kadis Saresmi. Hubungan seks hanya boleh dilakukan oleh pasangan suami istri untuk memperoleh keturunan. Dengan begitu hubungan seks adalah hubungan yang suci karena melalui perilaku hubungan tersebut membawa pengaruh pada watak anak yang dilahirkan. Sebuah upacara tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Lodoyo, Blitar dikaji oleh Wahjudi Pantja Sunjata. Siraman Gong Kyai Pradah dilakukan oleh masyarakat sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas segala rezeki yang telah diberikan kepada masyarakat.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain