Text
MENGENAL RADIO RIMBA RAYA
Aksi agresi Militer Belanda II telah menyebabkan jatuhnya hamper seluruh wilayah Republik Indonesia ke tangan Belanda, kecuali daerah Aceh. PARA PEMPIMPIN DAN PEJUANG Republik ditangkap Belanda. Kenyataan ini di perparah lagi oleh propaganda-propaganda Belanda melalui siaran radionya kepada dunia luar yang menyatakan bahwa Indonesia sudah tidak ada lagi. Pada saat yang genting itulah tampil Radio Rimba Raya sebagai penyelamat yang membantah semua berita bohong yang dilansir oleh radio Belanda dan sekaligus memberitakan kepada dunia luar bahwa Republik Indonesia masih tetap utuh dengan pusat pemerintahannya di Sumatera barat di bawah pimpinan Mr. Syafruddin Prawiranegara. Selain berfungsi sebagai media atau alat perjuangan, radio Rimba Raya juga berfungsi sebagai media pendidikan, media dakwah dan media sosial lainnya. Sebagai penghargaan untuk mengenang ketangguhan Radio Rimba Raya dan berjasa sangat besar dalam menyebarkan berita tentang kemerdekaan RI. Sejak Agresi Belanda ke-dua, 19 Desember 1948, di sekitar tempat terakhir pemancangan pemancar RRR itu, didirikanlah sebuah monument perjuangan rakyat Indonesia.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain