Text
ELITE DALAM STRUKTUR POLITIK DI BERAU (1942-1959)
Sejak dahulu wilayah Berau sudah dikenal oleh dunia luar terlebih bangsa asing yang ingin menguasainya. Kedua kesultanan di Berau (Kesultanan Gunung Tabur dan Kesultanan Samabliung) hingga saat ini masih dapat dijumpai situs dan peninggalannya dan bahkan kerabat kesultanan yang masih tinggal di keraton. Sebelum masa kemerdekaan, Kesultanan di Berau dipimpin oleh Sultan dan mereka dianggap sebagai elite lokal yang berkuasa. Elite ini bertugas untuk mengatur wilayahnya, sehingga sewaktu kedatangan bangsa asing banik itu Belanda dan Jepang, penguasa lokal ini yang lebih dahulu dijumpai guna memperoleh ijin masuk wilayahnya. Namun, kekuasaan elite lokal dibatasi dan tidak bebas karena campur tangan pihak asing lebih dominan dan sangat berpengaruh dalam pemerintahan wilayah. Demikian pula pada masa Jepang, pemerintahannya masih menggunakan yang berlaku pada masa Belanda hanya istilah dalam pemerintahan saja yang berubah. Kehidupan rakyat pada masa Jepang/sebelum kemerdekaan di Berau sangat prihatin, mereka hanya dijadikan sebagai objek kekuasaan.
Translate
Since the past, Berau region had been known by the outside world especially foreign nations who wanted to master it. Both the sultanates in Berau (Gunung Tabur Sultanate and Samabliung Sultanate) still had sites and relics and even relatives of the sultanate who still lived in the palace. Prior to independence, the Sultanate in Berau was led by the Sultan and they were considered to be the ruling local elite. This elite had the duty to regulate his territory, so that when the arrival of many foreign nations was the Netherlands and Japan, this local ruler was first found to obtain permission to enter his territory. However, the power of local elites was limited and not free because foreign interference was more dominant and very influential in regional government. Likewise, during the Japanese period, his administration still used what was valid in the Dutch period only the terms in the government changed. The life of the people in Japan / before independence in Berau was very concerned, they were only used as objects of power.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain