Text
IJINKAN KAMI BERSUJUD DI PERSADA-MU YA RABBI
IJINKAN KAMI BERSUJUD DI PERSADA-MU YA RABBI
Semula kami tak terpikir untuk melakukan Ibadah Haji pada tahun 1979 itu. Maka tidaklah mengherankan bilamana keluarga dan tetangga agak kaget ketika kami undang untuk mengahadiri acara selamatan mohon doa restu atas keberangkatan kami berdua, aku dan istriku, Surip. Tak ada barang emas atau kaplingan tanah yang kami jual, dan nampaknya mereka kurang percaya bila ONH yang Rp. 1.350.000,- adalah hasil tabungan sejak tahun 1977 dan ditambah Rp. 250.00,- dari hadiah yang kuterima sebagai Guru Teladan SLTA Kalbar dari Ibu Ria Pembangnan Tahun 1977. Di Masjid Nabawi, tempat shalat lelaki dan perempuan gedungnya terpisah. Maka antara aku dan istriku dibuatlah perjanjian, bahwa yang lebih dulu selesai sembahyang harus menunggu di pojok jalan tempat menjual teh dan susu kambing. Dan alhamdulilah selama Arbain (bahkan kami lebih dari 40 waktu) tak pernah terpisah atau kehilangan satu dengan lainnya. Betapapun sakit dan sengsaranya, semua orang termasuk seluruh jamaah haji dari manapun juga bila ditanya apakah mereka jera, pasti jawabannya ”tidak” dan selalu mengharapkan untuk dapat kembali ke Tanah Suci.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain