Text
ULAP DOYO
Masyarakat Benuaq di Desa Tanjung Isuy Kecamatan Jempang Kabupaten Kutai Barat, dikenal sebagai sentral penghasil Tenun Ulap Doyo. Tenun ini memiliki keunikan tersendiri yaitu pewarnaan yang menggunakan bahan-bahan alami. Bahan utama untuk membuat kain ini berasal dari serat tumbuhan yang hidup liar disekitar perkampungan Desa Tanjung Isuy. Tumbuhan ini oleh masyarakat Dayak dikenal dengan nama Doyo atau dalam bahasa latinnya Curculigo Latifolia Lendl. Bahan baku benang berasal dari serat tanaman doyo. Tanaman ini berasal dari beberapa varitas, yaitu antara lain doyo temoyo, doyo pentih dan doyo biang. Motif yang dominan dari tenun ulap doyo adalah pola geometris yang merupakan motif yang dianggap paling tua. Bentuk-bentuk ragam hias lainnya antara lain berupa spiral, pilin berganda, tumpal dan zigzag. Selain itu jga dijumpai motif berupa binatang dan patung manusia yang merupakan penggambaran dari roh leluhur Dayak Benuaq. Selain itu juga dapat dijumpai motif dari tumbuh-tumbuhan yaitu berupa kembang atau rumput-rumputan yang dikombinasi dengan motif swastika atau garis-garis simetris. Tenun Ulap Doyo selain dipergunakan sebagai pakaian untuk kegiatan upacara adat, juga dijadikan sebagai mahar dalam perkawinan. Selain itu juga dijadikan pakaian untuk tari-tarian adat. Saat ini tenun Ulap Doyo telah diproduksi dalam berbagai bentuk, yaitu kain panjang, taplak meja, hiasan dinding, tas, peci dan masih banyak lagi.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain