Text
DINAMIKA KEHIDUPAN SURAU DI MINANGKABAU (Kasus di Nagari Pariangan, Kab. Tanah Datar 1960-1990)
Dinamika kehidupan surau di Pariangan sepanjang tahun 1960-1990 mengalami pasang-surut yang dapat diamati perubahannya. Sebagai institusi yang berangkat dari kebudayaan lokal, surau mempertemukan dua elemen dasar masyarakat yaitu agama dan adat. Agama dan adat merupakan elemen yang saling mengisi satu sama lain. Dalam kehidupan masyarakat Pariangan, surau merupakan tempat aktualisasi nilai-nilai agama. Ajaran tentang moralitas disampaikan guru melalui cerita-cerita. Anak laki-laki dan perempuan menghabiskan waktunya di surau. Khusus untuk laki-laki kebiasaan ini berlangsung hingga mereka menikah, sedangkan perempuan sampai memasuki usia akil balig. Di Pariangan surau dimiliki oleh kaum dan digunakan untuk pengajian anak-anak kaum. Walaupun begitu anak diluar kaum yang bersangkutan dapat pula mengaji. Dari 36 surau pada awalnya hanya 18 surau yang masih ada. Itupun hanya hanya tiga saja yang masih menjalankan aktivitasnya. Komunitas surau tidak lagi memandang dirinya sebagai suatu kolektivitas kesurauan karena sebagian peran surau dapat dilakukan di rumah. Tekanan ekonomi menjadi faktor yang turut menyurutkan peran surau karena orang berfikir tentang persoalan keduniaan yang materialistik.
Tidak ada salinan data
Tidak tersedia versi lain