SEPTINA WARDHANI DAN KHAIRUL ULA
BALAI PELESTARIAN KEBUDAYAAN WILAYAH X
2025
CER - 398.22 (390-399)
-
Buku ini menceritakan tentang seorang kakek yang menceritakan kisah Garudeya kepada cucu nya yang bertanya tentang suatu relif Garudeya yang ada dalam candi sukuh. Kisah Garuda berpusat pada perjuangannya untuk membebaskan ibunya dari perbudakan dengan mencari air amerta. Petualangan ini penuh rintangan dan ujian, mencerminkan nilai pengorbanan, keberanian, serta kesetiaan seorang anak kepada ibunya. Garuda dikenal sebagai makhluk setengah manusia setengah burung, simbol kekuatan, keberanian, dan pengabdian. Garudeya mampu mengubah ukuran tubuhnya sehingga ia mampu menghadapi rintangan dalam mencari air amerta. Selama perjalanan mencari air amerta Garudeya selalu teringat nasihat ayahnya agar selalu membantu sesama sehingga ia membantu gajah dan kura-kura yang sedang bertengkar menjadi berdamai, Garudeya juga berhasil menghadapi kedua raksasa penjaga di tempat penyimpanan amerta dengan adil, dan membebaskan ibunya dari perbudakan serta menepati janjinya kepada Dewa Wisnu. Dari kisah tersebut kita dapat belajar bagaimana menjadi anak yang pantang menyerah, menepati janji, membantu orang lain, tidak berbuat curang dan berbakti pada orang tua seperti cerita dalam buku tersebut. Petualangan Garuda bukan hanya kisah mitologi, tetapi juga sarana untuk memahami nilai budaya, sejarah, dan filosofi yang terkandung dalam relief Candi Sukuh. Buku ini juga menjelaskan bagaimana relief Garudeya di Candi Sukuh menjadi bukti penting interaksi budaya Hindu di Jawa, serta bagaimana mitos Garuda diadaptasi dalam seni dan tradisi lokal.